Sehat ber-Sosial Media

Sehat bersosial media

Assalamualaikum wr. wb.
Bagaimana kabarnya kawan-kawan? Semoga sehat selalu yaa...

Akhir-akhir ini sangat menarik membaca perkembangan berita-berita di sosial media, dimulai dari isu penistaan agama dua tahun lalu, beruntut pada kasus PKI, lalu isu tentang habib tercinta habib Riziq Shihab, kemudian adanya isu penyerangan ulama maupun tempat ibadah lainnya, Banyak sekali yaa... Masih banyak berita heboh lain lagi yang saya tak ikuti seperti perpu ormas.

Berdasarkan dari semua berita diatas, setuju ataupun tidak, Indonesia seolah olah terpecah, ada yang benci si A, ada butuh si A, ada pula yang berlutut mencintai si A ehehehe. Banyak pro kontra yang menimbulkan keresahan. Ditambah lagi adanya hoax disekitar kita. Akhirnya kita tidak mampu mengambil sikap yang baik. Dan menurut saya, yang paling parah adalah kita ikut dikompori untuk kepentingan politik.

Perlu kita sama-sama ketahui, semua informasi yang bertebaran di sosial media maupun di media pers mempunyai dampak yang kuat membentuk mindset kita. Semua pemikiran 'sampah' yang penuh kebencian, permusuhan, maupun provokasi akan menyulut keresahan. Ketika kita salah dalam mencerna informasi tanpa saringan yang kuat, dikhawatirkan maka kita akan melakukan hal yang kurang bijak seperti beberapa kasus terkait isu PKI dimana ada beberapa oknum tertangkap menyebarkan hoax. Hal yang menyedihkan mereka melakukannya hanya karena sering membaca pesab broadcast anonim atau video sepotong-sepotong yang secara tidak sadar membuat mereka ikut ikutan membesarkan isu tersebut.

Kekuatan hoax memang sangat berbahaya tetapi kita bisa menyaring informasi hoax tersebut dengan cara sehat ber-sosial media. Seperti halnya makan,mengkonsumsi media sudah menjadi bahan pokok manusia zaman now. Oleh karena itu, seperti halnya makan, kita harus mengkonsumsi informasi dan berita yang halal dan juga baik. Carilah media yang menyajikan berita positif yang membuat kita lebih bergairah untuk melakukan sesuatu yang positif untuk bangsa. Carilah informasi dari sumber yang terpercaya, jangan sampai terhasut dengan informasi dari orang yang tidak kita kenal. Dan jika bingung mencari media yang menyuguhkan berita yang baik, lebih baik bertanya kepada ahlinya. Sebagai contoh, ketika mau tahu bagaimana cara bersikap beragama, tanyakan dengan ulama, jika terkait politik coba rujuk beberapa pendapat ahli pengamat politik yang netral dan terkenal dengan integritasnya.

Selanjutnya, dalam bersosial media, berhati-hati atau selektiflah dalam memilih kawan. Kalau kita ingin sehat maka kita jangan berkawan dengan orang yg berpenyakit menular. Jika sadar bahwa kita tidak mempunyai daya tahan tubuh yang kuat, dalam hal ini maksudnya tidak mempunyai cukup wawasan untuk menyaring informasi yang ada, maka kita harus menjauh dari kawan-kawan atau seleb di media sosial yang memberikan isu-isu provokatif atau kebencian. Dengan berteman dengan orang seperti itu, sedikit demi sedikit pemikiran kitapun akan terpengaruhi oleh orang itu. Jangan sampai kita tertular penyakit pemecah belah umat nya ya...

Baiklah, setelah mencari informasi yang sehat dan juga menjauhi orang yang berpotensi menularkan penyakit kebencian, mulailah dengan memperkuat imun tubuh. Ya, didalam tubuh yang kuat maka kita akan semakin bijak dalam bersosial media. Caranya adalah dengan perkaya otak kita dengan membaca buku, menonton video yang menginspirasi seperti channel Ted dimana banyak experts yang ikut memberikan petuah-petuah maupun berbagi pengalaman kesuksesan mereka.  Selain itu cobalah juga subscribe para youtube content creator yang menginspirasi dalam hal positif. Saya pribadi suka mengikuti vlog nya Gita yang berkuliah di Jerman dan Syarif zavata seorang vlogger di Eropa. Mereka adalah dua vlogger favorit saya yang sedang berkuliah diluar negeri dengan konten youtube yang mendidik banget. Intinya adalah kita perlu asah logika kita dalam beropini dengan banyak referensi pemikiran positif yang membangun.

Sebagai tambahan, ini adalah pesan yang saya sendiri belum bisa buat, hanya sekedar ide bagus yang masih belum terlaksana yakni Puasa Sosmed. Yupp, sudah banyak penelitian membuktikan puasa membuat tubuh kita lebih sehat. Racun-racun yang tertumpuk ditubuh ikut hilang dengan aktifitas puasa. Seperti halnya bersosial media, dengan kita berpuasa dari sosial media maka waktu kita berinteraksi dengan orang tersayang, keluarga, sahabat, kerabat atau kawan sejawat akan semakin besar. Sosial media mendekatkan yg jauh namun menjauhkan yang dekat adalah sebuah ironi yang harus kita hapuskan dengan dimulai dari diri sendiri.

Tips selanjutnya untuk sehat bersosial media adalah dengan cara sering berolahraga. Olahragalah guys, kalau kecanduan medsos dan kurang interaksi dengan dunia luar juga menjadi faktor kita akan tertular penyakit buruk dimedia sosial. Dengan olahraga pikiran jadi lebih fresh dan ga gampang panik maupun heboh.



Untuk sehat dalam bersosial media, maka kita juga perlu mengkonsumsi susu, suplemen atau vitamin. Untuk muslim maka suplemen terbaik adalah al-quran, beramal sholeh, dan berkumpul dengan para kekasih Allah. Kita hilangkan kebencian didalam diri dengan menyadari bahwa kebencian tidak akan membawa keperubahan yang lebih baik.  Untuk vitamin dalam bersosial media adalah cinta, kita saling mengayomi dengan kawan-kawan di sosial media, berikan berita yang baik, sharing hal positif dan memotivasi untuk menjadi lebih baik.

Terakhir adalah mari pergi ke dokter bila sudah sakit. Dalam bersosial media, akar dari penyakitnya adalah kita tidak melakukan tabayyun atau menyaring informasi secara adil dari berbagai sisi dan perspektif. Marilah kita biasakan sebelum berujar di media sosial kita pahami lebih dulu pendapat para pakar, ulama, dan referensi yg dapat dipercaya lainnya.

Salam harmoni,

Arinal

Komentar

Postingan populer dari blog ini

muhasabah rindu kami